Jumat, 21 Februari 2025

REVIEW FILM KEMAH TERLARANG : KESURUPAN MASAL



Jadi kali ini di hari liburku aku menyempatkan menonton sebuah film berjudul “Kemah Terlarang : Kesurupan Masal”. Film ini sudah tayang dari tahun 2024 dan setauku baru muncul di netflix baru-baru ini. Cmiiw setauku film ini diambil dari kisah nyata dari podcast RJL 5 dan katanya dulu berita tentang kejadian ini sempat viral. Tapi aku gak tau pastinya gimana.

Sebenarnya menurutku film ini ada potensi untuk jadi horor yang bagus banget, tapi ada beberapa hal yang membuat dia gak sampai di titik itu. Apakah aku merekomendasikan untuk menonton film ini?? Yes!!!. Apakah suatu saat aku bakal rewatch? I don’t think so..

Kisah dimulai dengan sosok Rini, siswa pindahan yang dia sakit asma, ikut pramuka dan dia juga ikut berpartisipasi dalam pentas tari tentang Roro Putri. Setiap setahun sekali sekolah tersebut mengadakan acara kemah di luar sekolah dan juga berniat mementaskan pertunjukan Roro Putri di tempat kemah yang akan mereka kunjungi. Sebenarnya sesepuh yang bernama Mbah Sonto sudah melarang adanya kegiatan kemah tersebut. Hanya saja Mas Heru (Derby Romero) berhasil meyakinkan Mbah Sonto dan berjanji akan menuruti semua pantangan yang diberikan olehnya.

Di bagian ini Mbah Sonto memberikan arahan untuk mengubur sesajen di dalam tanah dan melarang siapapun mengusik/membongkar sesajen itu. Tapi diperlihatkan bahwa seseorang membongkar dan memasukkan beras kuning di atas sesajen tersebut. Disitulah semua peristiwa ini bermula.

(Part setelah ini bisa mengandung spoiler, kalau mau nonton bisa dilanjut nanti aja bacanya)

Jujur aku suka banget film ini karena ada karakter support yang bernama Mada yang kesurupan, bener-bener akting kesurupan yang meyakinkan banget. Padahal di awal, Mada ini diperlihatkan sebagai figuran siswa biasa, tapi setelah kesurupan sosok Raja, benar-benar ngena banget dan bisa dilihat perbedaannya ketika jadi Mada yang biasa dan yang versi kerasukan terasa sangat berbeda. Aku sangat terpukau dengan hal itu.

Bukan cuma Mada, karakter Nayla yang dipertengahan film kerasukan sosok pocong juga serem. Dia teriak-teriak minta untuk dikafani. Sementara beberapa figuran lain yang di bagian akhir film juga akhirnya ikut kesurupan juga aktingnya gak cringe.

Penggunaan bahasa jawa di film terdengar natural, walaupun ada beberapa part yang sepertinya bahasa jawanya kecampur sama bahasa indonesia. Tapi masih terdengar enak aja menurutku. Yang paling kaget adalah Derby Romero pas dia ngobrol pake bahasa krama (bahasa jawa alus) ke Mbah Sonto. Disitu aku amaze karena terdengar alami. Aku yang sebagai orang jawa yang kurang bisa berbahasa jawa alus sampe speechless.

Dan ada scene dimana Mas Heru baca mantra jawa yang ada di kertas. Itu kertas tulisannya pakai aksara jawa. Jadi di scene itu dia harus akting untuk seolah baca mantra itu dan diucapkan dengan keras. Itu artinya Derby Romero harus menghafalkan isi mantra dalam bahasa jawa dengan pelafalan yang bagus dong dan scene itu berhasil membuatku semakin kagum sama kak Derby Romero.

Hanya saja ada beberapa hal yang aku merasa kurang. Beberapa karakter berasa sangat menjengkelkan dan ada sejumlah plot yang aku merasa aneh dan gak normal.

Di bagian awal ada pengecekan barang bawaan oleh panitia kemah a.k.a senior mereka. Ini si karakter Lidya ngecek barang bawaan Rini dan dia ngomel-ngomel karena Rini bawa obat pribadinya. Part ini gak relate sama lingkungan sekitarku. Di sekolah tiap siswa yang punya penyakit tertentu diwajibkan membawa obat pribadi mereka sendiri. Bahkan jika pihak sekolah menyediakan obat tersebut, tentunya gak perlu memarahi siswa yang membawa obatnya sendiri bukan? Jadi aku bingung sama Lidya ini, kenapa dia marah karena Rini bawa obatnya sendiri. Kan berarti Rini mandiri dan tidak berniat menyusahkan orang lain.

Nah selanjutnya ada scene dimana Mada kerasukan dan dibawa ditengah-tengah aula. Mada ini kan cowok, kesurupan, kenapa yang megangin dia Nayla sama Rini yang notabene Rini sakit-sakitan lemah tak berdaya? Jelas mereka gak kuat megangin Mada. Emang scene ini dibuat supaya Rini ditakutin sama Hantu Roro Putri. Tapi ya tetep aja, kalau di real life kalo cowok kesurupan dia pasti bakal dipegangin cowok juga. 

Scene setelah ini juga aneh, Rini ditampakkan oleh sosok Roro Putri. Fyi Roro Putri ini menampakkan wujud yang masih humanoid banget, manusia biasa, tanpa luka di wajah atau dibikin seram pun enggak. Tapi Rini tetep takut setelah melihat sosok Roro Putri dan udah tau dia takut, dia malah memilih meninggalkan siswa yang berkumpul di aula untuk balik ke tendanya SENDIRIAN. Menurutku itu keputusan yang ngapain sih, mengingat kalau kamu sendirian berarti kemungkinan kamu mendapat gangguan akan semakin meningkat. Yah kemudian Rini semakin diganggu sama sosok Roro Putri.

Hal yang mengganggu selanjutnya adalah keputusan Miko untuk melanjutkan acara jurit malam karena mengandalkan perkataan Mas Heru. Padahal Mbah Santo sudah melarang melanjutkan acara itu apapun yang terjadi, tapi Miko malah lebih percaya dengan omongan Mas Heru. Padahal disini posisi Miko adalah sebagai Ketua Dewa Ambalan dan Mas Heru sebagai pembina acara kemah. Harusnya dengan posisi yang dia punya dia bisa memutuskan untuk tidak melanjutkan acara itu, karena dia juga bertanggung jawab jika terjadi sesuatu yang salah disana. Dan pengambilan keputusan ini juga terasa sangat egois.

Mas Heru meyakinkan panitia yang lain dengan alasan apakah mereka tidak malu jika acara tidak lanjut. Padahal kalau dipikir-pikir secara logis, lebih memalukan jika ada korban berjatuhan bukan? Dan disini panitia yang lain tidak membantah, hanya satu orang yang menolak untuk ikut dengan alasan menjaga siswa yang kesurupan. Karakter Lidya juga mengiyakan pula, padahal sebelumnya ia sudah kesurupan juga. Pokoknya part ini bikin aku kesel parah karena gak logis sama sekali.

Ada beberapa orang yang mengatakan jika film ini mirip dengan KKN Desa Penari. Memang ada persamaan seperti munculnya ular di tiap teror hantunya dan perkataan dari hantu tersebut jika si karakter utama ini ‘Wangi’. Kalau menurutku sendiri gak terlalu mirip yang gimana-gimana. Mereka sama-sama menarik dengan cerita mereka masing-masing.

Overall, I love this movie, sedikit melebihi ekspektasiku. Kayaknya aku juga pernah nonton cerita asli dari podcastnya, tapi aku lupa-lupa ingat karena aku menonton banyak sekali podcast horor semacam itu. 

So next time nonton apa yaa??
Apapun itu ketemu lagi di artikel selanjutnya ya!!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar