Ide tulisan ini muncul saat aku me time kemarin. Tentang sebuah standard. Dewasa ini pasti banyak mendengarkan berapa banyak orang di sekitar yang ngomongin standard. Entah itu standard tiktok, standard pasangan, standard lingkungan kerja dan lain-lain.
Pertama-tama, standard itu bisa bisa berubah, tergantung situasi dan kondisi. Sebuah pemikiran muncul di otakku, aku menyadari jika standard tentang cowok idaman ketika aku masih SMA dan aku yang sekarang sudah bekerja sudah jauh berbeda. Hal itu bukan sesuatu yang berubah secara langsung tetapi bertahap (pengalamanku).
Aku yang dulu adalah orang yang menyukai keindahan visual, entah itu di kafe, dekorasi mall, alam dan juga manusia, apalagi cowok.Sampai beberapa tahun yang lalu, aku akhirnya tersadar kalau keindahan luar manusia itu gak ada apa-apanya kalau karakternya gak cocok di aku.
Dulu aku bersandar dengan sebuah tekad bahwa manusia akan berubah menjadi lebih baik, sesimpel cowok nakal akan jadi cowok baik. Cowok gak sholat akan jadi rajin sholat. Tapi nyatanya enggak. Siapa yang pernah mikir buat pacaran sama badboy dan yakin dirinya bakal bisa merubah si badboy itu. Aku orangnya. Dan ternyata aku gak bisa. Kamu gak bisa mengubah orang lain jika orang itu gak ada keinginan untuk berubah dari dirinya sendiri.
Seringkali aku stress, makan hati, gara-gara si cowok ini gak berubah, hingga akhirnya aku menyadari jika ia harus merubah dirinya sendiri. Jadi aku memilih lepas tangan, menyerah dan berpisah. Demi siapa? demi kesehatan mentalku sendiri.
Menurutku jika kita mencari sosok pasangan untuk menikah, sudah wajib kita punya standard karena ini demi kelangsungan hidup kita kedepannya. Untuk standardnya harus bagaimana ya itu terserah tiap orang. Baik cowok atau cewek pasti sudah ada standardnya.
Kedua, yang rame dibicarakan sekarang adalah standard tiktok. Berapa banyak hubungan orang kandas karena standard tiktok ini. Mereka melihat kehidupan orang lain dan dijadikan sebuah standard, tanpa menyadari kemampuan ekonomi masing-masing. Siapa yang salah? Yang salah adalah yang menyamakan standard kehidupan orang tersebut dengan standard kehidupannya sendiri.
Kalau aku lebih berpikir sederhana, aku punya nilai berapa dan pasanganku nilainya berapa. Aku sendiri gak mau kalau punya seseorang yang nilainya lebih rendah daripada aku. Nah disini pembandingnya adalah nilai-ku dan nilai pasanganku. Kalau orang lain, bisa jadi yang dijadikan pembanding adalah nilai pasangan orang lain dengan nilai pasangannya sendiri.
Nilai ini bisa dimaksud dalam segi kecerdaan, nilai religi, status ekonomi, sifat dan lain-lain.
Lalu apakah salah punya standard?? TENTU ENGGAK
Yang salah adalah merasa jika standard orang lain harus diikuti. Tiap orang punya standard masing-masing. Tidak mengikuti standard orang lain tidak membuat kita menjadi pribadi yang gagal dalam kehidupan. Jika ada orang berkata standard kesuksesan di usia 30 tahun punya saldo 1 milyar, lalu jika kamu berusia 30 tahun dan tidak punya saldo 1 milyar, apakah artinya kamu gagal? Tentu enggak dong, kamu masih hidup, bekerja, punya gaji bulanan, tiap hari tetap makan dan hidup seperti biasa.
Jadi, gimana nih?? Kamu udah menentukan standard kehidupanmu sendiri gak??
Tidak ada komentar:
Posting Komentar