Senin, 17 Februari 2025

MENJADI DEWASA : 3. ORANG TUA

 Belakangan ini, aku semakin memikirkan orang tuaku terkait banyak hal. Kenapa aku baru menyadari jika aku terus menua, begitupula dengan mereka. Dalam pikiranku, aku menua, tapi orang tuaku berada dalam masa yang sama, tidak bergerak. Aku lupa jika kami menua bersama.


Apa yang membuatku tersadar? Karena beberapa tahun lagi ibuku akan pensiun. Degg, rasanya begitu mendadak. Sebagai anak pertama dan satu-satunya yang sudah bekerja, aku khawatir apakah nantinya aku sanggup menanggung kehidupan mereka dengan keuanganku yang amburadul seperti ini. Yah begitulah namanya overthinking, memikirkan hal-hal yang belum terjadi secara berlebihan.


Selain itu, aku juga mengkhawatirkan bagaimana jika nantinya aku menikah dan aku meninggalkan orang tuaku. Orang tua itu mudah ditipu baik secara online maupun secara langsung. Karena itu aku mengkhawatirkan jika hal-hal buruk terjadi pada mereka dan dalam posisi aku gak ada disana. 


Aku juga merasakan penyesalan karena aku baru dekat dan mengobrol dengan orang tuaku baru dalam beberapa tahun ini. Kemana aku pas SMP? SMA? Kuliah? Aku sama sekali jarang membicarakan apapun dengan mereka. Kini aku menyesalinya. Waktu akan terus berjalan, dan tidak ada yang namanya keabadian.


Aku semasa SMP atau SMA disibukkan dengan kegiatan sekolah, sepulang sekolah pasti sibuk dengan pr atau belajar untuk persiapan ke jenjang selanjutnya. Kenapa aku tidak membicarakan rencana masa depanku dengan mereka? Kenapa aku mengambil keputusan sendiri tanpa meminta pendapat mereka? Dan masih banyak penyesalan lainnya.


Tapi yang paling mengesalkan adalah aku di masa kuliah. Aku terlalu sibuk, pulang terlalu malam, sehingga hanya bisa bertemu ketika sarapan. Dan itu biasanya tanpa pembicaraan deep talk, hanya sekedar “Kemarin kok pulang malam?”, “Sibuk apa?” dan pertanyaan serupa lainnya.


Dan yang paling membuatku tertampar adalah ketika memasuki Bulan Ramadhan, di tahun sebelumnya aku hampir gak pernah berbuka puasa di rumah karena ada agenda di UKM setiap hari selama bulan ramadhan dan kegiatan harian itu ditutup dengan berbuka puasa bersama. Bahkan biasanya aku sampai tarawih di masjid dekat area UKM.


Di tahun berikutnya, ibuku berkata kepadaku, “Kamu gak pernah buka puasa di rumah”. Saat itulah aku merasa kehadiranku di rumah sangat amat kurang. Kemudian setelah itu, aku mengurangi frekuensi kegiatanku di kampus, walaupun tetap sibuk, tapi sudah gak sesibuk sebelumnya.


Sementara di beberapa tahun belakangan ini, setiap aku pulang kerja, aku selalu makan malam di lantai bawah sambil ngobrol beberapa hal kecil bersama ibuku. Karena kebiasaan rutin inilah aku mulai memahami pemikiran ibuku dan hal inilah yang membuatku mulai overthinking dengan kehidupan orang tuaku kedepannya akan berjalan bagaimana.


Kalau kalian sendiri bagaimana? Apakah kalian merasakan overthinking yang sama sepertiku? Atau hanya aku yang mengalaminya? Semakin dipikirkan semakin aku tidak tau harus bagaimana. Tapi begitulah masa depan, tidak ada kepastian apa yang akan terjadi.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar