Kamis, 27 Februari 2025

MENJADI DEWASA : 4. KESEHATAN

 Belakangan ini aku mulai mengkhawatirkan kondisi kesehatanku. Semasa kuliah gaya hidupku sangat berantakan, tidur tidak teratur, jarang makan dan stress tugas. Sebuah kombinasi yang ternyata sangat berbahaya untuk kedepannya. Saat itu aku merasa penyakit yang menyerangku sebatas flu, batuk maupun demam. Ternyata banyak penyakit diluar sana yang lebih berbahaya. Sejak saat itulah, perlahan aku mulai merubah beberapa kebiasaan buruk.


Salah satu yang aku ubah adalah kebiasaan makan. Aku yang dulu sangat amat malas makan. Hingga di titik aku gak akan makan sampai aku laper banget. Aku merasa mengunyah makanan membutuhkan banyak effort. Nah hal ini dikarenakan mindsetku saat itu adalah aku bisa menggunakan waktu makan untuk mengerjakan laporan praktikum, tugas kuliah dan lainnya. Efeknya adalah beberapa kali aku mengalami asam lambung.


Hal terburuknya adalah aku membiasakan habit makan ini selama bertahun-tahun. Biasanya aku sarapan di pagi hari, untuk siang dan makan malam lebih memilih nyemil roti atau sesuatu yang mudah dimakan, yang bisa aku makan sambil mengerjakan tugas. Bahkan jika hari itu aku terlalu sibuk, aku memilih untuk tidak makan sama sekali. Sekarang saat aku menuliskan artikel ini, aku berpikir kenapa aku semager itu untuk makan?


Hingga akhirnya 2 tahun lalu, dokter bilang aku sakit lambung. Untuk cerita lebih lengkapnya bisa baca disini. Nah setelah pemeriksaan pertama ini, beberapa bulan aku mengalami sakit yang lebih parah. Bahkan hingga di titik aku susah untuk bernafas dan menelan apapun. Tapi tetap saja, karena besoknya aku merasa baik-baik saja, aku tetap masuk kerja. Namun, kenyataannya berubah, seiring berjalannya waktu rasa sakitnya benar-benar gak tertahankan, jadi aku pergi ke RS Unisma untuk periksa dan hasilnya aku terkena Gerd.


Disaat itulah aku mengerti jika ternyata biaya kesehatan itu cukup mahal. Jadi aku sakit karena gerd, lalu aku sakit karena tertampar realita bahwa sehat itu mahal harganya. Poin inilah yang membuatku tersadar jika aku harus mulai menjaga kesehatanku dan itu dimulai dengan merubah pola makanku. Sekarang aku makan 3x sehari dan akhirnya berat badanku bisa mencapai angka 50 kg. Sebuah pencapaian luar biasa, mengingat berat badanku semasa kuliah hanya berkisar di 41-43 kg.


Lalu apakah aku sudah sembuh 100%?


Aku rasa belum, beberapa kali lambungku masih terasa sakit. Jika sakitnya tak tertahankan, aku akan ke dokter. Tapi jika sakitnya masih bisa kutangani, aku memilih untuk minum obat maag komersil. Untuk sekarang aku membatasi makan gorengan dan pedas. Aku hanya makan makanan pedas dalam tingkat normal, level 1 atau pedes dikit aja. Aku juga stop minum minuman kemasan, karena tiap minum itu, lambungku langsung perih. Yang paling penting adalah mengurangi faktor penyebab stress.


Jika kalian mengira pengalaman sakit ini hanya sampai di sakit lambung saja, kalian salah. Semakin kesini aku merasa lebih sering terkena sakit kepala, baik migrain maupun sakit kepala biasa dan solusi yang kugunakan adalah meminum obat-obatan yang mana itu mengeluarkan biaya. Aku juga tiap terkena angin malam atau hujan pasti langsung drop, demam dan flu. Belum lagi pegal-pegal di punggung. Yaps, aku belum terlalu tua tapi semua rasa sakit ini terasa amat sangat mengganggu.


Aku masih berjuang dengan semua penyakit pemuda jompo ini, semoga tahun ini kesehatan kita menjadi lebih baik lagi :’)


Jumat, 21 Februari 2025

REVIEW FILM KEMAH TERLARANG : KESURUPAN MASAL



Jadi kali ini di hari liburku aku menyempatkan menonton sebuah film berjudul “Kemah Terlarang : Kesurupan Masal”. Film ini sudah tayang dari tahun 2024 dan setauku baru muncul di netflix baru-baru ini. Cmiiw setauku film ini diambil dari kisah nyata dari podcast RJL 5 dan katanya dulu berita tentang kejadian ini sempat viral. Tapi aku gak tau pastinya gimana.

Sebenarnya menurutku film ini ada potensi untuk jadi horor yang bagus banget, tapi ada beberapa hal yang membuat dia gak sampai di titik itu. Apakah aku merekomendasikan untuk menonton film ini?? Yes!!!. Apakah suatu saat aku bakal rewatch? I don’t think so..

Kisah dimulai dengan sosok Rini, siswa pindahan yang dia sakit asma, ikut pramuka dan dia juga ikut berpartisipasi dalam pentas tari tentang Roro Putri. Setiap setahun sekali sekolah tersebut mengadakan acara kemah di luar sekolah dan juga berniat mementaskan pertunjukan Roro Putri di tempat kemah yang akan mereka kunjungi. Sebenarnya sesepuh yang bernama Mbah Sonto sudah melarang adanya kegiatan kemah tersebut. Hanya saja Mas Heru (Derby Romero) berhasil meyakinkan Mbah Sonto dan berjanji akan menuruti semua pantangan yang diberikan olehnya.

Di bagian ini Mbah Sonto memberikan arahan untuk mengubur sesajen di dalam tanah dan melarang siapapun mengusik/membongkar sesajen itu. Tapi diperlihatkan bahwa seseorang membongkar dan memasukkan beras kuning di atas sesajen tersebut. Disitulah semua peristiwa ini bermula.

(Part setelah ini bisa mengandung spoiler, kalau mau nonton bisa dilanjut nanti aja bacanya)

Jujur aku suka banget film ini karena ada karakter support yang bernama Mada yang kesurupan, bener-bener akting kesurupan yang meyakinkan banget. Padahal di awal, Mada ini diperlihatkan sebagai figuran siswa biasa, tapi setelah kesurupan sosok Raja, benar-benar ngena banget dan bisa dilihat perbedaannya ketika jadi Mada yang biasa dan yang versi kerasukan terasa sangat berbeda. Aku sangat terpukau dengan hal itu.

Bukan cuma Mada, karakter Nayla yang dipertengahan film kerasukan sosok pocong juga serem. Dia teriak-teriak minta untuk dikafani. Sementara beberapa figuran lain yang di bagian akhir film juga akhirnya ikut kesurupan juga aktingnya gak cringe.

Penggunaan bahasa jawa di film terdengar natural, walaupun ada beberapa part yang sepertinya bahasa jawanya kecampur sama bahasa indonesia. Tapi masih terdengar enak aja menurutku. Yang paling kaget adalah Derby Romero pas dia ngobrol pake bahasa krama (bahasa jawa alus) ke Mbah Sonto. Disitu aku amaze karena terdengar alami. Aku yang sebagai orang jawa yang kurang bisa berbahasa jawa alus sampe speechless.

Dan ada scene dimana Mas Heru baca mantra jawa yang ada di kertas. Itu kertas tulisannya pakai aksara jawa. Jadi di scene itu dia harus akting untuk seolah baca mantra itu dan diucapkan dengan keras. Itu artinya Derby Romero harus menghafalkan isi mantra dalam bahasa jawa dengan pelafalan yang bagus dong dan scene itu berhasil membuatku semakin kagum sama kak Derby Romero.

Hanya saja ada beberapa hal yang aku merasa kurang. Beberapa karakter berasa sangat menjengkelkan dan ada sejumlah plot yang aku merasa aneh dan gak normal.

Di bagian awal ada pengecekan barang bawaan oleh panitia kemah a.k.a senior mereka. Ini si karakter Lidya ngecek barang bawaan Rini dan dia ngomel-ngomel karena Rini bawa obat pribadinya. Part ini gak relate sama lingkungan sekitarku. Di sekolah tiap siswa yang punya penyakit tertentu diwajibkan membawa obat pribadi mereka sendiri. Bahkan jika pihak sekolah menyediakan obat tersebut, tentunya gak perlu memarahi siswa yang membawa obatnya sendiri bukan? Jadi aku bingung sama Lidya ini, kenapa dia marah karena Rini bawa obatnya sendiri. Kan berarti Rini mandiri dan tidak berniat menyusahkan orang lain.

Nah selanjutnya ada scene dimana Mada kerasukan dan dibawa ditengah-tengah aula. Mada ini kan cowok, kesurupan, kenapa yang megangin dia Nayla sama Rini yang notabene Rini sakit-sakitan lemah tak berdaya? Jelas mereka gak kuat megangin Mada. Emang scene ini dibuat supaya Rini ditakutin sama Hantu Roro Putri. Tapi ya tetep aja, kalau di real life kalo cowok kesurupan dia pasti bakal dipegangin cowok juga. 

Scene setelah ini juga aneh, Rini ditampakkan oleh sosok Roro Putri. Fyi Roro Putri ini menampakkan wujud yang masih humanoid banget, manusia biasa, tanpa luka di wajah atau dibikin seram pun enggak. Tapi Rini tetep takut setelah melihat sosok Roro Putri dan udah tau dia takut, dia malah memilih meninggalkan siswa yang berkumpul di aula untuk balik ke tendanya SENDIRIAN. Menurutku itu keputusan yang ngapain sih, mengingat kalau kamu sendirian berarti kemungkinan kamu mendapat gangguan akan semakin meningkat. Yah kemudian Rini semakin diganggu sama sosok Roro Putri.

Hal yang mengganggu selanjutnya adalah keputusan Miko untuk melanjutkan acara jurit malam karena mengandalkan perkataan Mas Heru. Padahal Mbah Santo sudah melarang melanjutkan acara itu apapun yang terjadi, tapi Miko malah lebih percaya dengan omongan Mas Heru. Padahal disini posisi Miko adalah sebagai Ketua Dewa Ambalan dan Mas Heru sebagai pembina acara kemah. Harusnya dengan posisi yang dia punya dia bisa memutuskan untuk tidak melanjutkan acara itu, karena dia juga bertanggung jawab jika terjadi sesuatu yang salah disana. Dan pengambilan keputusan ini juga terasa sangat egois.

Mas Heru meyakinkan panitia yang lain dengan alasan apakah mereka tidak malu jika acara tidak lanjut. Padahal kalau dipikir-pikir secara logis, lebih memalukan jika ada korban berjatuhan bukan? Dan disini panitia yang lain tidak membantah, hanya satu orang yang menolak untuk ikut dengan alasan menjaga siswa yang kesurupan. Karakter Lidya juga mengiyakan pula, padahal sebelumnya ia sudah kesurupan juga. Pokoknya part ini bikin aku kesel parah karena gak logis sama sekali.

Ada beberapa orang yang mengatakan jika film ini mirip dengan KKN Desa Penari. Memang ada persamaan seperti munculnya ular di tiap teror hantunya dan perkataan dari hantu tersebut jika si karakter utama ini ‘Wangi’. Kalau menurutku sendiri gak terlalu mirip yang gimana-gimana. Mereka sama-sama menarik dengan cerita mereka masing-masing.

Overall, I love this movie, sedikit melebihi ekspektasiku. Kayaknya aku juga pernah nonton cerita asli dari podcastnya, tapi aku lupa-lupa ingat karena aku menonton banyak sekali podcast horor semacam itu. 

So next time nonton apa yaa??
Apapun itu ketemu lagi di artikel selanjutnya ya!!!