Aku menulis artikel karena sedang kalut dengan apa yang ada dipikiranku saat ini. Semoga ketika aku membaca tulisan ini di masa depan, aku bisa memiliki solusi untuk apa yang sedang kurasakan sekarang.
Beberapa bulan lagi aku mencapai usia 28 tahun. Status? Masih single. Panik? Enggak sama sekali. Hanya saja, aku berpikir kenapa aku gak merasa panik dengan statusku saat ini? Gak ada rasa buru-buru menikah bahkan mencari pacar. Mungkin karena memang aku gak ada perasaan ke siapapun dan aku masih baik-baik saja sendirian.
Seingatku pernah ada beberapa saran supaya aku sholat tahajud untuk mencari jodoh. Masalahnya adalah karena aku merasa belum ingin menikah, jadi aku gak berdoa untuk mencari jodoh baik ketika sholat wajib maupun tahajud. Lalu apa aku gak pernah berdoa untuk berjodoh dengan seseorang? Tentu saja pernah. Beberapa tahun yang lalu dan gak pernah berlanjut lagi.
Aku masih sangat menikmati kesendirianku. Nonton, jalan-jalan, kulineran, belanja sendirian. Hal-hal itu justru membuatku merasa recharge kembali. Ketika keluar bersama seseorang aku malah kehilangan energiku. Oleh karena itu jika aku sudah keluar bersama seseorang, aku butuh waktu seharian untuk istirahat SENDIRIAN. Bisakah aku menemukan seseorang yang ketika aku bertemu dengannya aku merasa recharge? Kayaknya bisa, cuman belum saatnya.
Selain itu, aku juga sudah mempunyai nilai-nilai apa saja yang bisa kutoleransi dalam sebuah hubungan dan hal-hal apa yang sama sekali tidak bisa kuterima. Jadi aku membuat garis yang jelas untuk kelanjutan sebuah hubungan kedepannya.
Seperti beberapa orang membuatku terasa terburu-buru untuk memutuskan sesuatu. Jika dia terburu-buru untuk menikah, aku bukan jawabannya. Aku butuh waktu untuk sebuah perkenalan, memahami karakter dan sebagainya, sementara aku baru mengenalnya selama beberapa bulan. Sebuah pernikahan bukan gatcha ya kawan-kawan.
Aku tipe orang yang mengambil pelajaran dari hubunganku dengan orang lain. Jadi ada masa dimana aku merasa “Ah, aku ternyata gak suka hal-hal kayak gini”. Sehingga aku tau apa yang aku inginkan dan apa yang tidak.
Lalu aku juga memperhatikan bagaimana cara orang lain memperlakukanku. Ada seseorang yang sebegitu baiknya dan membuatku bertanya apakah dia punya perasaan padaku, dan ternyata tidak. Itu hal yang bisa dia lakukan ke orang lain. Kemudian aku merasa “Ah ternyata berbuat kayak gini ke orang lain itu normal ya”. Jadi aku berbuat baik ke orang lain, tapi beberapa orang malah menyalahartikan perbuatan baikku sebagai rasa suka pada mereka. Padahal I don’t have any feelings. Itu murni hanya sebuah perbuatan baik ke sesama manusia. Contohnya adalah care/peduli ke orang lain ketika dia sakit, sangat normal bukan peduli ke orang sakit?
Semuanya terasa menjadi lebih kompleks sekarang. Aku gak mempan dikode, kodenya gak akan aku pahami. Itu salah satu self defense yang terbentuk karena aku terlalu merasa dikode orang lain, padahal enggak. Tapi kalau dikasih tau langsung apa tujuan seseorang hadir dihidupku, aku juga gak bisa serta merta menerima keinginan orang itu. Entahlah, aku berusaha menjabarkan apa yang ada dipikiranku dan inilah hasilnya. Sepertinya ada beberapa hal yang ketinggalan, akan aku tulis di artikel selanjutnya setelah aku berhasil mengingatnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar