Senin, 30 Juni 2025

MENUJU 28 TAHUN : KESALAHAN FINANCIAL

 Aku membuat tulisan ini sebagai pengingat untuk diriku sendiri bahwa aku pernah melakukan semua kesalahan finansial ini. Beberapa bulan belakangan ini aku merasa hasrat untuk membeli sebuah barang meningkat pesat. Jika ditanya kenapa? Aku gak tau pasti alasannya wkwk. Akibatnya keuanganku mulai hancur perlahan. Tapi akhirnya aku mulai menyadari ada beberapa hal lain yang mempengaruhi permasalahan keuanganku belakangan ini. Kesalahan apa saja yang baru aku sadari?

1. BARANG MURAH-AN

Awalnya aku membeli suatu barang karena aku membutuhkannya dan karena menurutku membeli barang dengan harga lebih murah akan menghemat pengeluaran. Aku berakhir dengan membeli banyak barang murah. Ternyata aku SALAH. Barang yang aku dapatkan dengan harga lebih murah itu memiliki kualitas yang tidak bagus. Sehingga mudah rusak dan akhirnya tidak bisa digunakan. Akhirnya apa?? Aku terpaksa membeli barang lagi dan tentunya kali ini aku memilih yang harganya sedikit lebih mahal demi mendapatkan barang yang lebih awet. Uang jadi keluar dobel.

2. LIVE SHOPPING

Pernah gak ngerasain diburu-buru buat beli barang pas nonton live di marketplace? Ini yang aku rasain. Karena ngejar diskon live, dan diskon ini terbatas jumlah dan waktu, jadi aku buru-buru checkout barang. Padahal aku dalam posisi gak terlalu butuh barang itu dan aku berakhir kecewa. Karena ternyata barangnya tidak sesuai ekspektasiku. Baik dari segi bahan dan lainnya. Setelah melihat review orang lain, ternyata yang mengalami hal tersebut gak cuma aku saja. Intinya terhasut live shopping, sepertinya aku harus menjauh dari live shopping selama beberapa bulan.

3. GRATIS ONGKIR

Karena ngejar gratis ongkir. Pasti pernah ngalamin, pengen beli barang harganya dibawah 15.000, tapi minimal pembelian 30.000 buat dapat gratis ongkir. Apalagi kalau pengirimannya beda provinsi. Jadi aku terpaksa menambahkan barang-barang gak penting pas checkout, demi sebuah gratis ongkir. Dan akhirnya pembelianku bertambah. Sebenarnya solusi dari problem ini mudah, aku bisa mencari toko lain yang lebih dekat atau bisa menunggu tanggal kembar untuk checkout barang. Hanya saja aku lebih sering lapar mata dan tidak sabar untuk menunggu.

4. PAYLATER

Terlena paylater. Aku terlalu meremehkan paylater. Biasanya aku hanya menggunakan paylater untuk pembelian dibawah 50.000. Lalu karena aku merasa jumlahnya sedikit, tanpa sadar aku malah melakukan beberapa transaksi, sehingga di waktu pembayaran ternyata tagihan paylaterku melonjak tinggi. Karena hal ini, aku terpaksa mengatur ulang semua keuanganku dan mengurangi pembelian di beberapa hal.

5. CASH VS E-MONEY

Pembagian uang jajanku tiap bulan. Jadi aku sudah mengalokasikan 500-600ribu untuk jajanku selama sebulan. Jadi biasanya setiap minggu aku ambil 100ribu berupa uang cash untuk membeli makan siang dan kadang-kadang jajan. Nah masalahnya datang ketika aku membeli makanan di aplikasi dan pembayaran pakai e-money. Jadi aku gak sadar kalau saldo e-money terus berkurang, sedangkan uang cashku saldonya tetap. Disini aku malah menggunakan uang cashku untuk pembelian tidak penting lainnya. Akhirnya aku mengeluarkan uang dua kali lebih banyak dari biasanya. Yakni dari saldo cash dan saldo e-money.


Itu dia beberapa kesalahan yang mengganggu finansialku. Tapi untuk sekarang aku sudah berusaha untuk membatasi diri dan mengoreksi semua kesalahan diatas. Aku berharap untuk segera menemukan keseimbangan finansialku lagi, jadi aku bisa menabung kembali seperti biasanya. Semoga artikel ini bisa menjadi pelajaran untukku maupun orang lain yang membacanya.


Rabu, 11 Juni 2025

MENUJU 28 TAHUN : PANDANGANKU DALAM SEBUAH HUBUNGAN

 Aku menulis artikel karena sedang kalut dengan apa yang ada dipikiranku saat ini. Semoga ketika aku membaca tulisan ini di masa depan, aku bisa memiliki solusi untuk apa yang sedang kurasakan sekarang.


Beberapa bulan lagi aku mencapai usia 28 tahun. Status? Masih single. Panik? Enggak sama sekali. Hanya saja, aku berpikir kenapa aku gak merasa panik dengan statusku saat ini? Gak ada rasa buru-buru menikah bahkan mencari pacar. Mungkin karena memang aku gak ada perasaan ke siapapun dan aku masih baik-baik saja sendirian.


Seingatku pernah ada beberapa saran supaya aku sholat tahajud untuk mencari jodoh. Masalahnya adalah karena aku merasa belum ingin menikah, jadi aku gak berdoa untuk mencari jodoh baik ketika sholat wajib maupun tahajud. Lalu apa aku gak pernah berdoa untuk berjodoh dengan seseorang? Tentu saja pernah. Beberapa tahun yang lalu dan gak pernah berlanjut lagi. 


Aku masih sangat menikmati kesendirianku. Nonton, jalan-jalan, kulineran, belanja sendirian. Hal-hal itu justru membuatku merasa recharge kembali. Ketika keluar bersama seseorang aku malah kehilangan energiku. Oleh karena itu jika aku sudah keluar bersama seseorang, aku butuh waktu seharian untuk istirahat SENDIRIAN. Bisakah aku menemukan seseorang yang ketika aku bertemu dengannya aku merasa recharge? Kayaknya bisa, cuman belum saatnya.


Selain itu, aku juga sudah mempunyai nilai-nilai apa saja yang bisa kutoleransi dalam sebuah hubungan dan hal-hal apa yang sama sekali tidak bisa kuterima. Jadi aku membuat garis yang jelas untuk kelanjutan sebuah hubungan kedepannya. 


Seperti beberapa orang membuatku terasa terburu-buru untuk memutuskan sesuatu. Jika dia terburu-buru untuk menikah, aku bukan jawabannya. Aku butuh waktu untuk sebuah perkenalan, memahami karakter dan sebagainya, sementara aku baru mengenalnya selama beberapa bulan. Sebuah pernikahan bukan gatcha ya kawan-kawan.


Aku tipe orang yang mengambil pelajaran dari hubunganku dengan orang lain. Jadi ada masa dimana aku merasa “Ah, aku ternyata gak suka hal-hal kayak gini”. Sehingga aku tau apa yang aku inginkan dan apa yang tidak.


Lalu aku juga memperhatikan bagaimana cara orang lain memperlakukanku. Ada seseorang yang sebegitu baiknya dan membuatku bertanya apakah dia punya perasaan padaku, dan ternyata tidak. Itu hal yang bisa dia lakukan ke orang lain. Kemudian aku merasa “Ah ternyata berbuat kayak gini ke orang lain itu normal ya”. Jadi aku berbuat baik ke orang lain, tapi beberapa orang malah menyalahartikan perbuatan baikku sebagai rasa suka pada mereka. Padahal I don’t have any feelings. Itu murni hanya sebuah perbuatan baik ke sesama manusia. Contohnya adalah care/peduli ke orang lain ketika dia sakit, sangat normal bukan peduli ke orang sakit?


Semuanya terasa menjadi lebih kompleks sekarang. Aku gak mempan dikode, kodenya gak akan aku pahami. Itu salah satu self defense yang terbentuk karena aku terlalu merasa dikode orang lain, padahal enggak. Tapi kalau dikasih tau langsung apa tujuan seseorang hadir dihidupku, aku juga gak bisa serta merta menerima keinginan orang itu. Entahlah, aku berusaha menjabarkan apa yang ada dipikiranku dan inilah hasilnya. Sepertinya ada beberapa hal yang ketinggalan, akan aku tulis di artikel selanjutnya setelah aku berhasil mengingatnya.